ResensiNovel Hafalan Shalat Delisa Karya Tere Liye Identitas Novel Hafalan Shalat Delisa. Sinopsis Novel Hafalan Shalat Delisa. Novel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Unsur Intrinsik Novel Hafalan Shalat Delisa. Delisa bandel menarik bantak. Ditaruh di
IDENTITASBUKU HAFALAN SHALAT DELISA. HAFALAN SHALAT DELISA Pengarang :Tere Liye ISBN :-5 Terbit :Jakarta, 2008 Halaman :v + 248 Halaman Berat :150 gram Dimensi :13.5 X 20.5 Cm Cover :Soft Cover. BERAPA HARGA BUKU HAFALAN SHALAT DELISA ? Harga buku HAFALAN SHALAT DELISA adalah Rp 57.000,-DIMANA BELI BUKU HAFALAN SHALAT DELISA ?
Akhirdari novel ini, Delisa mendapatkan kembali hafalan sholatnya. Sebelumnya malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya.
TsunamiMerenggut Kebahagiaanku Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa Ruang Resensi | Ahad
Delisanmampu melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. hafalan sholat karena Allah. dan hadiah itu datang pada Delisa, Delisa menemukan kalung D untuk Delisa dalam genggaman jasad Umminya. Sesudah 3 bulan lebih. Delisa tetap teringat dengan orang-orang terdekatnya.
RESENSINOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE 1.DATA BUKU v JUDUL BUKU : HAFALAN SHALAT DALIA v PENULIS : TERE LIYE v JUMLAH HALAMAN : 266 v GAMBAR DAN WARNA : Warna cover didominasi oleh warna biru, dan warna putih. v PENERBIT : REPUBLIK v ALAMAT PENERBIT : JAKARTA SELATAN. 2.UNSUR INSTRINSIK v TOKOH : delisa, ummi salamah, fatimah, aisyah, zahra, abi usman, Ustad rahman, umam, tiur
. September 21, 2022 423 am . 6 min read Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa ini menceritakan seluk beluk dari novel tersebut secara lengkap. Baik dari instrinsik, ekstrinsik dan sinopsis novel. Bukan hanya itu artikel ini juga akan membahas pula kelebihan dan kekurangan dari novel hafalan Shalat Delisa tersebut. Hal tersebut bertujuan agar kamu bisa menentukan sikap untuk membeli atau tidak novel tersebut. Dan sebagus apa novel ini jika di jadikan bacaan novel sehari-harimu di rumah. Resensi Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan resensi novel Hafalan Shalat Delisa secara lengkap, diantaranya adalah 1. Identitas Novel Hafalan Shalat Delisa Judul NovelHafalan Shalat DelisaPenulisTere LiyeJumlah halaman266 halamanUkuran buku20,5× cmPenerbitRepublika PenerbitKategorinovelTahun Terbit2008 2. Sinopsis Novel Hafalan Shalat Delisa Novel ini mengisahkan seorang anak gadis kecil berusia 6 tahun yang merupakan anak bungsu dalam keluarganya. Dan ia bernama Delisa. Delisa memiliki tiga kakak perempuan bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Keluarga yang sangat harmonis itu adalah keluarga Ummi Salamah dan Abi Usman. Sudah menjadi tradisi bahwa di kampung mereka semua anak haru menghafal bacaan shalat. Seperti halnya yang dilakukan oleh Delisa ia juga sedang khusyu menghafal bacaan shalatnya yang hampir sempurna. Namun, ada sesuatu hal yang membuat semuanya berubah. Yaitu sebuah bencana tsunami yang meluluh lantahkan tempat tersebut. Lalu bagaimana keadaan keluarga harmonis tersebut? Apakah selamat? Jawabannya hanya ada di novel tersebut. 3. Kelebihan Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan kelebihan dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Novel ini sangat menarik dan bacaannya mudah di kata yang sederhana namun sangat banyak sekali nilai religius dan nilai sosial yang kental. Seperti keluarga yang harmonis, saling menolong, dan bertetangga dengan yang sangat inspiratif sehingga cocok untuk di baca oleh semua jenis usia. 4. Kekurangan Novel Hafalan Shalat Delisa Sama halnya dengan novel lainnya bahwa novel ini pun memiliki kekurangan, diantaranya adalah Tidak adanya daftar isi sehingga jika ingin membaca harus dimulai dari awal. Dan jika lupa harus di beri tanda di ada kata pengantar serta sinopsis sehingga menyulitkan kita untuk mengetahui isi novel ini secara singkat. 5. Unsur Intrinsik Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan unsur intrinsik dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Tema Tema dalam novel ini adalah tentang perjuangan seorang anak berumur 6 tahun dalam menghafal hafalan shalat. Serta keikhlasan dan ketegarannya dalam menghadapi segala cobaan yang menimpanya. Tokoh dan penokohan Delisa dia adalah sosok gadis yang pemalas, manja, baik, suka memberi dan pantang menyerah. Sifatnya tersebut karena ia merupakan anak bungsu. Sehingga para kakak dan orang tuanya sangat sayang Salamah, dia adalah sosok ibu yang sangat baik, bijaksana, dalam kehidupan berkeluarganya. Dan ia selalu memberikan contoh baik terhadap ke 4 putrinya dengan selalu melakukan shalat berjama’ ia merupakan kakak sulung Delisa yang sangat baik dan perhatian terhadap ia adalah kakak Delisa yang ke tiga yang memiliki sifat usil, baik hati, dan juga suka iri dia adalah kakak Delisa yang ke dua yang memiliki sifat pendiam dan Usman, ia memiliki sifat yang baik dan ia adalah teman Delisa yang memiliki sifat jahil, usil, nakal dan sifatnya perhatian dan baik Cik Acan, penolong baik dan suka Adam, Baik dan suka Rahman, ia tawakal, sabar, pengertian, dan baik hati. Alur Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan alur campuran. Yang mana didalamnya terdapat alur maju dan alur mundur. Latar Waktu Latar waktu yang terjadi dalam novel ini adalah pagi, siang, sore dan malam hari. Latar Tempat Latar tempat yang terjadi dalam novel ini adalah pesisir pantai Lhok Nga, Rumah Sakit Kapal Induk, Kamar Rawat, dan Hutan. Sudut Pandang Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah menggunakan sudut pandang orang ketiga. Hal ini dibuktikan oleh penulis yang selalu menyebut nama tokoh pemeran dalam novel tersebut. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan bahasa sehari-hari. sehingga isi novel ini sangat mudah untuk di pahami. Selain itu di tambah beberapa majas seperti personifikasi, hiperbola, dan majas metafora. Amanat Amanat yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa ini diantaranya adalah Novel ini mengajarkan kita bahwa bersabarlah ketika menerima permasalahan. Karena setiap permasalahan pasti ada jalan menyerah terhadap keadaan. Tetaplah berjuang, bertahan dan tegar menghadapi segala atas apa yang telah Allah berikan kepada kita tetap ikhlas dalam menghadapi semua ketetapan darinya. Niscaya kamu akan menjadi orang-orang yang beruntung. 6. Unsur Ekstrinsik Novel Hafalan Shalat Delisa Berikut merupakan unsur ekstrinsik dari novel Hafalan Shalat Delisa, diantaranya adalah Latar Belakang Penulis Tere Liye merupakan nama pena dari penulis berbakat tanah air. Tere Liye sendiri di ambil dari bahasa India yang memiliki arti milikmu. Tere Liye lahir di Lahat 21 mei 1979 dari keluarga sederhana. Dikenal sebagai penulis yang karyanya beberapa sudah di angkat ke pertelevisian Indonesia. Menulis adalah hobinya dan dia masih aktif kerja kantoran sebagai akuntan. Nilai Sosial Nilai sosial yang terdapat dalam novel ini adalah saat mereka terkena bencana mereka saling membantu dan memberikan yang terbaik kepada yang paling membutuhkan. Nilai sosial lainnya bagaimana kasih sayang seorang ibu yang mendidik ke empat anaknya dengan rasa sayang dan penuh kasih itu merupakan sosial yang patut di contoh. Nilai Moral Nilai moral yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa ini adalah mengenai kebiasaan masyarakat di daerah tersebut, yang sangat sopan, juga sangat mengutamakan nilai-nilai agama dan budaya islam. Nilai Agama Nilai agama yang terdapat dalam novel ini sangatlah kuat. Dimana kita bisa melihat bahwa setiap anak yang terdapat dalam lingkungan tersebut di wajibkan untuk hapal bacaan shalat. Tidak terkecuali keluarga ibu Salamah si bungsu pun sedang menjalani hafalan shalat seperti yang pernah dilakukan oleh kakak-kakaknya dahulu. Nilai Budaya Ini adalah budaya dari keluarga Ummi Salamah dimana anak yang sudah menghafal bacaan shalat maka akan dihadiahi sebuah kalung sesuai dengan inisial nama anak tersebut. 7. Pesan Moral Novel Hafalan Shalat Delisa Bagian terakhir dari resensi novel Hafalan Shalat Delisa adalah pesan moral yang terkandung dalam novel tersebut. Dan pesan moralnya adalah sebagai berikut Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita senantiasa selalu bersyukur dan berterimakasih atas untuk ikhlas menerima apapun yang terjadi dalam maju dan pantang menyerah dalam menjalani keluargamu seperti mereka menginginkan sesuatu teruslah berusaha agar semua citamu tercapai.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Identitas BukuJudul Hafalan Shalat DelisaPenulis Tere Liye Penerbit Republika Tempat Terbit JakartaTahun Terbit 2005Halaman 270 halamanUkuran 13,5 x 20,5 cm Harga Novel ini menceritakan tentang kisah dari seorang anak berusia 6 tahun, ia bernama Delisa, yang hidup bersama Ummi Salamah dan ketiga kakaknya, yaitu Cut Fatimah siswa kelas 1 Madrasah Aliah, si kembar Cut Aisyah dan Cut Zahra yang duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhok Nga. Sementara Abinya, Usman bekerja di tanker perusahaan minyak Internasional, yang biasa pulang setiap 3 bulan sekali untuk menemui keluarganya. Mereka tinggal bersama di komplek perumahan sederhana di pinggir pesisir pantai Lhok Nga, Aceh. Keluarga ini sangatlah bahagia, dengan 4 anak shaleha dengan karakter yang berbeda - beda. Delisa yang bersifat manja dan baik hati, Aisyah yang egois, Fatimah yang bijaksana, Zahra yang pendiam, sehingga menciptakan suasana keributan - keributan kecil pada keluarga itu. Suatu hari Ummi dan Delisa pergi ke pasar untuk membeli kalung emas 2 gram di toko Koh Acan sebagai hadiah ujian praktek hafalan shalat yang akan dilakukan Delisa untuk di setorkan kepada Bu Guru Nur. Abi juga akan memberikan hadiah berupa sepeda untuk Delisa, hal itu mebuat Delisa semakin bersemangat untuk menghafal lafadz bacaan shalatnya. Pagi, 26 Desember 2004 Delisa akan melaksakan ujian praktek hafalan shalatnya. Dengan raut wajah tegang, memucat. Delisa mengangkat tangannya yang gemetar, namun mantap hatinya berkata Delisa akan khusyu' Allahu Akbar. Lantai laut retak seketika Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Vas bunga pecah menggores lengan Delisa . Gelombang itu bergetar menyapu Banda Aceh. Namun sedetik berikutnya sejuta air membucah keluar, desiran dahsyat ombak menggulung pesisir komplek, anehnya Delisa tetap kusyu' membaca lafadz shalatnya. Gelombang itu menghantam tubuh Delisa dengan keras, ia terpelenting jauh, entah kemana Delisa terbawa arus ombak. Selama 6 hari Delisa tak sadarkan diri, dia ditemukan dengan keadaan yang sangat menyedihkan, persis seperti mayat. Delisa dirawat di rumah sakit, tak lagi terbaring di semak - semak belukar, tak lagi meminum air hujan, tak lagi kepanasan terpapar sinar matahari. Delisa dirawat dengan banyak selang di tubuhnya, kepalanya dipangkas dengan banyak luka jahitan, lebih dari 20 jahitan, serta kaki yang telah membusuk sehingga terpaksa harus di amputasi, tangannya di beri gips, sungguh malang nasib Delisa, walau seperti itu ia tidak pernah mengeluh. Berkat data - data yang diberikan suster Sophi, Delisa dapat bertemu dengan Abinya. Ia menceritakan tentang kondisinya tanpa ada raut wajah sedih, Abinya tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya, menerima takdir yang telah diberikan Allah SWT. Delisa dan Abinya memulai kehidupannya dari awal, mulai memahami kata ikhlas, ikhlas menghafal hafalan shalat hanya karena Allah SWT semata. Sore itu, Sabtu, 21 Mei 2005, Delisa yang sedang mencuci tangannya di sungai, Ia terdiam ketiak melihat kilauan cahaya dari semak belukar. Kilauan itu bewarna kuning, seperti kalung. Hati Delisa sontak bergetar, bukan karena ia melihat kalung itu berinisial 'D'.Rangkuman Alisa Delisa merupakan seorang gadis kecil yang ingin menghafal hafalan shalat untuk ujian praktek yang akan dilakukannya di depan kelas. Awalnya ia sangat bersemangat menghafal karena Ummi nya membeli kalung emas serta sepeda dari Abinya sebagai hadiah kelulusan ujian praktek Delisa. Tapi kejadian yang tak terduga terjadi, bencana tsunami melanda ketika ia sedang menghafal di depan kelasnya, hal itu membuat Delisa kehilangan keluarganya, kehilangan satu kakinya. Namun ia tetap tegar menerimanya dan ia sangat bersyukur masih memiliki Abi, cobaan ini membuat Delisa belajar memahami akan arti kesabar dan keikhlasan. UNSUR - UNSUR INTRINSIK- Tema Perjuangan- Tokoh dan Penokohan Delisa manja, baik hati, Ummi Salamah bijaksana, rendah hati, Abi Usman baik hati, sayang keluarga, Cut Fatimah tegas, penyayang, Cut Aisyah egois, Cut Zahra pendiam, Koh Acan baik hati, Teuku Uman nakal, Tiur baik hati, Prajurit Smith perhatian, Suster Sophi baik hati, Kak Ubai baik hati. - Latar Tempat ; Pesisir pantai Lhok Nga, Rumah sakit kapal induk, Semak - semak, Latar Waktu Pagi, siang, malam, dini Suasana Senang, sedih, Sudut Pandang sudut pandang yang digunakan penulis dalam cerita ini yaitu sudut pandang orang ketiga. Hal ini dapat dibuktikan oleh penulis yang selalu menyebutkan nama tokoh yang terdapat dalam novel Alur dalam novel ini alur yang digunakana dalah alur maju-mundur. Hal ini dapat dibuktikan ketika tokoh utama kembali mengngat ke masalalu a9membayangkan saat - saat dulu ia bersama keluarganya.- Amanat 1. Bersyukur dan tetap selalu ikhlas terhadap cobaan yang diberikan oleh Allah SWT2. Jangan menyerah dengan keadaan3. Percayalah, setiap masalah pasti ada jalannyaKelebihan dan kelemahan- Kelebihan Novel ini menarik dan mudah di pahami, disusun dengan tulisan - tulisan sederhana namun sangat berkesan. Mengandung nilai - nilai religius dan nilai sosial yang tinggi. Dalam novel ini tergambar keharmonisan suatu keluarga. Kisah ini banyak mengandung kisah inspiratif, yaitu kisah seorang anak yang berusia 6 tahun yang berjuang untuk menghafal hafalan shalat agar sempurna ketika pengambilan nilai. Ia juga menu=erima ujian dari Allah SWT denga Kelemahan Dalam novel ini tidak terdapat daftar isi, kata pengantar dan novel ini sangat menarik. Disajikan dengan tulisan yang mudah di pahami dan sangat berkesan. 1 2 3 Lihat Hobby Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hafalan Shalat Delisa merupakan novel karya Darwis atau lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye, adalah seorang penulis novel tanah air yang selalu memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri dari penulis lainnya. Novel yang berjudul Hafalan Shalat Delisa ini merupakan novel terbitan pertama tahun 2005 oleh Penerbit Republika di Jakarta, dengan tebal buku sebanyak 248 halaman. Novel ini menjadi novel best seller dan ceritanya berhasil diangkat ke layar lebar. Novel ini termasuk dalam kategori novel ini menceritakan kisah seorang anak bungsu berumur enam tahun bernama Delisa. Delisa memiliki keluarga yang lengkap, Ummi, Abi, kakak kembarnya yang bernama Aisyah dan Zahra, serta kakaknya yang paling sulung bernama Fatimah. Abinya bekerja di kapal dan akan kembali setelah beberapa bulan ke kota Lho Nga. Anak-anak itu bersama Umminya di rumah. Mereka sangat patuh menjalankan ibadahnya kepada sang khalik. Setiap siang anak-anak pergi mengaji di Tempat Pengajian anak TPA juga tidak pernah meninggalkan kewajiban shalatnya. Tetapi Delisa karena ia masih sangat kecil, ia masih perlu banyak belajar terutama mengenai hafalan berusaha keras menghafal bacaan shalat agar dia bisa mendapatkan sebuah kalung dari ummi-nya sebagai hadiah. Ketiga kakak Delisa pun telah menyiapkan kejutan untuk Delisa. Namun sayangnya, di hari Delisa diuji hafalan bacaan shalat, gempa dan tsunami datang meluluh lantahkan kota Lhok Ngah. Ketiga kakak Delisa meninggal dalam peristiwa itu. Sedangkan ummi Delisa tidak diketahui keberadaannya. Seluruh kota Lho Nga luluh lantak, tidak ada satupun yang tersisa. Berita bencana tersebut menyebar ke seluruh pelosok negeri dan mengagetkan seluruh dunia. Sampailah berita itu ke telinga Abinya yang berada jauh dari bencana itu terjadi. Delisa selamat dari bencana itu. Namun Delisa harus kehilangan salah satu kakinya. Walaupun berbagai cobaan datang menghimpit dan Umminya pun belum diketahui dimana keberadaannya, sedangkan jasad kakak-kakaknya sudah dikebumikan semua. Delisa tetap tabah dan sabar. Bersama Ayahnya ia kembali membangun rumahnya. Ia masih tetap ceria seperti dulu. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal hati Delisa. Dia tidak bisa menghafal kembali bacaan shalatnya. Sekeras apapun dia mencoba, dia tetap tidak bisa. Pada akhirnya Delisa mengetahui apa yang menyebabkan dia tidak bisa menghafal bacaan shalatnya. Sedikit demi sedikit, Delisa mengahafal kembali bacaannya. Kota Lho Nga pun mulai terlihat bangunan-bangunan baru bukti bahwa mereka sudah memulai kehidupan baru lagi. Dan tiba waktu Delisa bersama teman-temanya pergi ke bukit, beberapa kilometer dari kota Lho Nga untuk belajar bersama gurunya. Saat itupun Delisa pertama kalinya shalat dengan bacaan yang ia hafalkan, saat itu pulalah, akhirnya Delisa menemukan jasad Ummi nya yang sudah menjadi kerangka. Tangan kerangka putih itu menggengam erat sesuatu. Sesuatu yang paling Delisa inginkan. Membaca novel ini, mampu membawa kita terhanyut dalam alur majunya yang mengalir. Dengan adanya sub-bab, pembaca dibuat berdebar-debar dan penasaran untuk mengetahui akhir kisahnya. Dalam novel ini, Tere Liye masih memunculkan masyarakat memegang teguh nilai luhur agama yakni Islam dan budaya serta memberikan panutan, rujukan dalam setiap masalah yang dihadapi warga. Sehingga cerita di dalam novel ini mampu membawa kita kembali pada kondisi masyarakat zaman dulu yang masih sangat polos dan gaya hidup sederhana menjadi ciri khasnya. Cerita ini sesuai dengan realitas sosial pada waktu itu. Bahkan tokoh Delisa merupakan seseorang yang memang menjadi korban bencana gempa dan tsunami pada 12 Desember 2006 yang kala itu menimpa Indonesia. Namun, kejadian yang dialami tokoh utama oleh penulis terkesan terlalu dilebih-lebihkan. Misalnya mimpi-mimpi yang dialami tokoh Delisa dalam titik ketidaksadarannya. Tetapi Tere Liye berhasil mengungkapkan seluruh kisah khususnya peristiwa bencana besar tersebut ke dalam suatu kisah dengan bahasa yang mengalir juga menggunakan beberapa kosakata bahasa daerah setempat. Cerita dalam novel ini sangatlah menguras emosi saat membacanya. Ditambah dengan penokohan yang kuat dan terfokus akan membuat pembacanya semakin terkait dan terhanyut oleh ceritanya, dan yang lebih penting ialah hikmah dari kisah dalam novel ini dapat dipetik mengenai pentingnya manusia dan kemanusiaan. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, novel ini sangat menarik untuk dibaca, bahkan walaupun sudah dibaca berkali-kali, kita tidak akan bosan untuk membacanya Hesti Putri, Herlis Agusti, Julianti, Nur Alam, dan Wahyudi. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Hafalan Shalat Delisa adalah novel karya Tere Liye yang menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Delisa yang tinggal di desa terpencil di Indonesia. Delisa adalah anak dari seorang imam masjid yang sangat mengajarkan nilai-nilai agama pada Delisa dan seluruh penduduk desa. Cerita dimulai saat gempa bumi besar melanda desa Delisa dan menghancurkan masjid tempat ayahnya beribadah. Delisa harus menemukan kekuatan dan keyakinan dalam dirinya sendiri untuk menghadapi kejadian tragis ini dan membantu para penduduk desa yang terdampak bencana. Cerita Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Delisa yang penuh dengan cobaan dan ujian. Delisa harus kehilangan ayahnya dalam bencana gempa bumi dan tsunami tersebut. Namun, Delisa tidak kehilangan kepercayaan pada Allah dan terus menguatkan iman serta keyakinannya melalui shalat. Hal ini terlihat dari judul novel tersebut, yaitu “Hafalan Shalat Delisa”. Cerita dalam novel ini sangat menyentuh dan mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari novel ini, seperti kekuatan iman, rasa persaudaraan, dan kegigihan dalam menghadapi cobaan hidup. Karakter Delisa Delisa adalah karakter utama dalam novel ini. Meski masih kecil, Delisa memiliki kekuatan iman yang besar dan mampu memotivasi para penduduk desa untuk tetap bertahan dan melawan rasa putus asa. Delisa juga sangat mencintai keluarganya dan selalu berusaha membantu mereka. Karakter Delisa sangat menginspirasi dan membuat pembaca terkesan. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat sederhana dan mudah dipahami. Tere Liye mampu menggambarkan keadaan dan perasaan Delisa dengan sangat detail dan menyentuh. Novel ini sangat cocok untuk dibaca oleh siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak terlalu suka membaca. Kesimpulan Secara keseluruhan, novel Hafalan Shalat Delisa adalah karya yang sangat inspiratif dan menyentuh. Cerita yang terjadi dalam novel ini sangat menggugah hati dan membuat pembaca menjadi lebih menghargai hidup. Karakter Delisa yang kuat dan penuh semangat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Oleh karena itu, novel ini sangat layak untuk dibaca dan dijadikan sebagai referensi dalam kehidupan sehari-hari.
0% found this document useful 0 votes4K views16 pagesOriginal TitleResensi Novel Hafalan Shalat © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes4K views16 pagesResensi Novel Hafalan Shalat DelisaOriginal TitleResensi Novel Hafalan Shalat to Page You are on page 1of 16 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 14 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Resensi Novel Judul Buku Hafalan Shalat Delisa Judul Resensi Ketegaran dibalik Perjuangan Delisa Pengarang Darwis Tere Liye Penerbit Republika Tahun Terbit XIII, Januari 2011 Tebal Buku 266 Halaman Harga Buku Subhanallah, dengan rapinya Tere Liye menggambarkan perihnya kehidupan seorang gadis kecil tokoh utama dalam novel ini bernama Delisa, gadis kecil asal Lhok-Ngah Aceh berusia 6 tahun ini penggemar warna biru, penggemar coklat, berambut keriting, bermata hijau, kulit putih kemerahan dan sangat hobi dengan bermain sepak bola. Ia cerdas, polos dan suka bertanya, sehingga sangat menggemaskan bagi orang-orang yang berada didekatnya. Delisa tinggal bersama umminya bernama Salamah dan ketiga kakaknya bernama Cut Alisa Fatimah, kedua kakak Delisa yang kembar bernama Cut Alisa Zahra dan Cut Alisa Aisyah. Ayahnya yang biasa dipanggil Abi bernama Usman, beliau bekerja dikapal tanker dan baru pulang setiap 3 bulan sekali. Delisa akan menempuh ujian diSekolah Dasarnya di Lhok Ngah, ujiannya yakni untuk dapat menghafal bacaan shalat dengan baik dan benar serta mendapat predikat lulus dari gurunya bernama bu guru Nur, ujian yang akan ditempuh Delisa sama halya dengan ketiga kakaknya yang terdahulu sudah lulus ujian hafalan shalat, seperti sebuah tradisi dikeluarga Delisa yakni jika lulus ujian hafalan shalat maka ummi akan memberi hadiah kalung, ketiga kakaknya sudah memiliki kalung itu. Delisa sangat termotivasi akan hadiah yang diberikan ummi sebuah kalung yang sudah ia beli dengan ummi di toko mas paten, pemiliknya bernama Koh Acan keturunan China. Pada saat memilih, Koh Acan menawarkan sebuah kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D untuk Delisa, ia pun mulai antusias untuk segera memilikinya. “Kalung, yang sugguh tanpa didasari Delisa, akan membawanya ke semua lingkaran mengharukan cerita ini”. Ahad 26 Desember 2004 Ujian hafalan shalat Delisa pun dimulai, ummi Salamah menunggu diluar kelas beserta wali murid yang lainnya. Cut Alisa Delisa, suara bu guru Nur memanggil Delisa untuk segera mempersiapkan diri maju didepan, mukena berwarna biru menutupi seluruh tubuhnya. Delisa mempraktekkan hafalan shalatnya didepan kelas. tiba-tiba ketika ussai ber-takbiratul-ihram pada kata wa-ma-yaya, wa-ma-ma-ti, dasar bumi, lantai bumi retak seketika, tanah bergetar dahsyat menjalar menggetarkan dunia ratus ribuan kilometer. Air laut seketika mendidih, tersedot kerekahan maha luas. Gempa berkekuatan 8,9 SR itu membuat air laut teraduk, Tsunami menyusul menyapu seisi daratan. Namun Delisa yang menanamkan dengan baik nasehat ustadznya ketika shalat hanya ada satu dipikiran, tetap khusyu’ dan terus saja melafalkan bacaan-bacaan shalat, karena ia hanya menempatkan satu fokus, kepada Allah. Tapi tsunami terlalu kuat untuk sekedar menghayutkan tubuh lemahnya, hingga kemudian membiarkan Delisa terdampar di antara semak belukar. Enam hari ia tak sadarkan diri, ketika sadar ia menemukan kakinya terjepit, Delisa hanya bisa terbaring lemah hingga akhirnya salah seorang prajurit Amerika menemukannya, kemudian ia bawa dan dirawat oleh sukarelawan diatas kapal angkatan laut Amerika. Delisa masih saja tak sadarkan diri, sampai ketika seorang ibu yang dirawat disampingnya melakukan shalat tahajud dan melafalkan do’a bacaan shalat. Delisa akhirnya sadar, dan harus menerima kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi dan ia harus menerima beberapa luka jahitan disekujur tubuhnya. Tapi dibalik semua itu, Delisa masih bisa bertemu dengan abinya. Delisa bukanlah gadis kecil berusia enam tahun yang biasa saja, ia mampu menjadi lebih dewasa dan kuat dibalik usianya. Ia memulai kembali kehidupan baru bersama abinya di posko-posko pengungsian, kembali bersekolah yang baru dibuka oleh sukarelawan. Tetapi satu hal yang Delisa sesalkan adalah hilangnya hafalan-hafalan bacaan shalat. Seketika ia sadar bahwa selama ini, ia tak tulus menghafalkannya. Ia menghafal demi imbalan coklat dari ustadznya dan kalung dari umminya. Sejak saat itu, ia bertekad untuk kembali menghafalkannya terlebih setelah suatu hari ia bermimpi bertemu dengan umminya yang memintanya untuk tetap menyelesaikan hafalan shalatnya kembali. Hari itu tiba, teman-teman Delisa dan kak Ubay salah seorang sukarelawan PMI, usai bermain-main, kak Ubay mengimami mereka semua untuk melaksanakan shalat Ashar berjama’ah. Untuk pertama kalinya, Delisa mampu menyelesaikan shalatnya dengan sempurna, tanpa tertinggal ataupun terbalik dari setiap bacaannya. Ia berhasil menempatkan satu fokus dari takbiratul ikhram hingga berakhirnya salam kedua. Selesai shalat Ashar, Delisa pergi kesungai untuk mencuci tangan. Ia melihat pantulan cahaya matahari senja dari sebuah benda yang terjuntai di semak belukar, berada di seberang sungai. Mendadak hati Delisa bergetar. Delisa berkata “ya Allah, bukankah itu seuntai kalung?”. Ternyata Delisa benar, benda itu adalah sebuah kalung yang berinisial D, untuk Delisa, yang dijanjikan oleh ibunya ketika ia berhasil melewati ujian hafalan shalat, yang membuat Delisa bertambah terkejut kalung itu ternyata bukan tersangkut di dahan, tetapi tersangkut di pergelangan tangan, yang sudah sempurna menjadi kerangka manusia, putih belulang, utuh bersandarkan semak belukar tersebut. Tangan itu adalah jasad tangan ummi yang sudah 3 bulan lebih menggenggam kalung emas seberat 2 gram berinisial huruf D, untuk Delisa. Delisa kini tersadar bahwa keikhlasan lah yang mampu membuat Delisa mampu menghafal bacaan shalat. Bukan untuk hadiah kalung tersebut, namun untuk mendo’akan ummi Salamah, Kak Fatimah, kak Zahra dan kak Aisah di surga. Novel Hafalan Shalat Delisa ini dibaca hingga usai sangat menyentuh hati pembaca termasuk saya sendiri, menurut saya novel ini sangat bagus untuk dibaca semua kalangan, baik anak-anak maupun remaja bahkan orang tua sekalipun. Pesan yang tersirat dalam novel ini memberikan banyak inspirasi bagi para pembacanya. Isi novel ini penuh dengan perenungan bagi siapa saja yang khusyu’ mengkhayati alur cerita ini, isi cerita dibalut dengan suasana tegang, haru, serta menonjolkan keharmonisan keluarga berbalut Islami ditengah pulau Lhok Ngah Aceh dan memiliki makna tersendiri bagi penikmat novel ini. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami pagi penikmat pembaca, serta penulis menyajikan imajinasi untuk para pembaca mengenai alur dan setting cerita tersebut mengenai tsunami di Aceh tahun 2004 dan kehidupan usai dilanda bencana menggetarkan dunia tersebut. Novel yang diciptakan oleh Tere Liye dengan aliran romantis sentimentalis ini, mampu membuat para penikmat membaca menciptakan suasana romantis dan mengesankan. Kekurangan yang ada dinovel ini penulis terlalu tinggi atau berlebihan menggambarkan sifat tokoh anak pada novel ini. Selain berwujud dalam sebuah buku, novel Hafalan shalat Delisa ini, sudah difilmkan pada tanggal 22 Desember 2011. Film “Hafalan Shalat Delisa” adalah sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya Tere Liye. Novel ini memang terkenal lantaran ceritanya yang begitu menyentuh, tentunya akan ada perbedaan ketika novel ini diangkat ke layar lebar. Demi menjaga perasaan warga Aceh, lokasi pengambilan gambar memang sengaja tidak dilakukan di daerah aslinya, melainkan di daerah Ujung Genteng dan Bogor. Perbedaan yang menonjol di film ini yakni, sang produser tidak terlalu banyak menciptakan sentuhan didalam film ini melainkan banyak menghilangkan adegan yang seharusnya ditampilkan. Padahal di novel sebelumnya pengarang lebih menonjolkan suasana yang tegang, haru dan mengesankan terlebih dengan suasana keluarga yang bahagia didalam novelnya, tetapi di film ini hampir keseluruhan adegan ini 60 persen produser menceritakan pasca kejadian tsunami Delisa dengan Abinya memulai kehidupan baru. Tokoh utama yakni Delisa yang diperankan Chantiq pemeran Delisa sangat berbeda dengan Delisa yang di dalam novelnya digambarkan sebagai anak lucu, berambut ikal, berwarna pirang dan bermata hijau. Delisa sangat lucu dan menggemaskan karena penampilannya yang mirip dengan bule, berbeda dengan anak Lhok Ngah lainnya. Sedangkan di filmnya, penampilan Delisa nampak tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya, seperti amat hitam, rambut lurus, dan kulit sedikit gelap, dan tidak terlalu menggemaskan. Pada gambar diatas, ketika Delisa terdampar setelah hanyut dibawa gelombang tsunami yang sangat dahsyat serta terhantam oleh benda-benda keras, sehingga mukanya tidak semulus pada adegan tersebut. Terdapat perbedaan yang sangat menonjol antara film dengan novel yang digambarkan oleh Tere Liye, bagi yang belum membaca novelnya ini adalah kondisi yang digambarkan oleh Tere Liye, sang penulis dalam novelnya. “muka Delisa biru lebam, sekujur tubuhnya juga penuh baret dan luka, sisa guratan pohon kelapa, ranting-ranting pohon lainnya, benda-benda yang menghantam tubuhnya sepanjang terseret gelombang tsunami, juga semak-semak yang sekarang mencengkeram kaki kanannya”. Perbedaan yang sangat menonjol diakhir film ini, dengan cerita novel yang dituliskan oleh Tere Liye. Delisa, menemukan jasad umminya, diseberang sungai, ketika shalat Ashar. Dari seberang sungai itu, Delisa sebenarnya hampir tidak mengenali jasad yang berada di semak belukar, hanya saja kalung yang berinisial D untuk Delisa begitu bercahaya, seakan-akan pertanda bahwa itu lah umminya. Kutipan novelnya “kalung itu ternyata tersangkut didedahanan. Tidak juga tersangkut di dedaunan. Tetapi kalung itu tersangkut ditangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia putih. Tulang-belulang utuh, bersandarkan semak belukar tersebut”. Ini adalah kutipan asli pada novelnya, bahkan saat membaca saya terharu dan sempat menangis. Tetapi jika ditonton filmnya, saya kecewa dengan endingnya. Bayangkan mayat yang terombang-ambing oleh gelombang tsunami, masih dalam keadaan utuh ketika didapati 3 bulan kemudian. Padahal dalam novelnya, Delisa hanya dapat mengenali jasad umminya, karena jasad yang tinggal kerangka tulang itu memegang kalung berinisial D untuk Delisa. Deskripsi novel jauh berbeda dengan difilmnya. Novel Delisa lebih membawa emosi kepada pembacanya. Begitu detail dan klimaks untuk beberapa adegan, bahkan saya sempat meneteskan air mata.
resensi novel hafalan shalat delisa